Jumat, 25 Mei 2012

Smansa Day 2012


Hari ini H+6 Closing Smansa Day 2012.

Smansa Day kita.

Masih sulit percaya...


Seneng ngeliat respon keluarga Smansa yang positif. Sebagai panitia, masih merasa aneh belum berkomentar sama sekali tentang acara kemarin.

Tapi, memang masih belum dapet kalimat atau kata yang seenggaknya bias ngegambarin apa yang gue pengen bilang. Ingin mencoba unyu. Tapi gak ketemu. Yasudah lah..

Mungkin hal-hal yang paling berarti emang gak bisa –dan gak harus- diungkapkan secara lisan.
…#masihmencobaunyu


Pokoknya…

Semangat buat kita, yang perjalanannya masih panjang, yang masih punya banyak rintangan.

Dan terima kasih kepada kalian semua, karena telah membuat Smansa Day kemarin seperti yang gue harapkan, yang gue tunggu-tunggu.


… Yang akan selalu jadi alasan kenapa gue akan rindu kalian.

Jumat, 18 Mei 2012

Everytime.

"OMG I HAVE TONS OF THINGS TO DO. IMMA SHOWER AND MAKE SOME COFFEE AND STAY UP LATE!!!"

*le some shower and kitchen time

*30 minutes later

"OMG THE CAFFEINE'S WORKED BUT I FORGET WHAT TO DO!!"

every-fucking-time.

Senin, 14 Mei 2012

Datuk.

Pernah nonton film tentang jaman penjajahan, Belanda atau Jepang? Suka merhatiin gak, anak-anak yang bulak-balik ke sekolah bawa buku di tangannya, tanpa tas atau alas apapun?

Kakek gue, bisa jadi salah satu dari sedikit anak sekolah yang beruntung karena punya tas untuk membawa buku-buku itu.

Kakek gue adalah anak tengah dari Sembilan bersaudara (kalau gak salah). Dari umur anak SD, kakek gue suka jual jasanya –gue lupa untuk apa- dan nabung hasil uangnya. Lalu beliau melubangi batang pagar rumahnya dan membuat batang itu celengannya –dimasukkannya koin-koin itu sedikit demi sedikit tiap hari dan diketuknya supaya tahu batang itu sudah penuh atau belum. Waktu sekiranya sudah penuh, beliau memotong batang tersebut dan membeli tas pertamanya.

Beliau juga ternyata sudah terampil soal teknik sejak dini. Waktu SMP, beliau ingin punya sepeda, tapi tidak mampu beli. Jadi, beliau menymbungkan rangka-rangka sepeda dari logam-logam yang ia cari, yang akhirnya jadi sepeda pertamanya. Ternyata beliau menyukai pekerjaan itu, sampau-sampai beliau membuatkan sepeda untuk saudara-saudara kadungnya, seorang dapat satu.

Pada usia 13, beliau sudah magang di mana-mana. Beliau melakukan banyak hal untuk cari uang, di antaranya yang paling sering adalah jadi kenek angkot di daerah talang. Setiap habis sekolah saat hari sekolah atau setiap subuh-subuh saat hari libur, beliau sudah stand by di talang dan ngenek angkot untuk mencari uang. Hal ini sangat rutin dilakukannya sehingga dengan hasilnya beliau dapat membeli barang berharga dengan uangnya sendiri.

Saat remaja, beliau dipercaya kampungnya untuk jadi semacam hansip. Kepercayaan yang diberikan bukan main-main, sebab beliau yang masih belia ini sudah dipercaya oleh orang-orang kampungnya untuk menjadi satu-satunya petugas keamanan yang memegang senjata berapi. Gue pernah lihat fotonya, dan beliau terlihat 
begitu gagah.

“Dulu datuk kayak kamu, beda sama yang lain…” Katanya.

Sakit rasanya disamakan dengan beliau yang perjuangannya sama sekali jauh lebih sulit dari gue.

Di Jakarta Post online, gue pernah baca satu artikel naratif –rujukan Ovie- tentang seorang gadis yang menceritakan bahwa ia baru sadar selama ini ia dan keluarga besarnya sering berkumpul dan bercengkrama di rumah kakeknya, tapi kakeknya tidak pernah benar-benar terlibat dalam percakapan mereka. Dan menyedihkan, ketika gadis itu baru menyadarinya setelah sekian lama.

Dan malam itu, saat gue mendengarkan kakek gue bercerita tentang masa kecilnya dengan sangat semangat sampai-sampai mengeluarkan album foto yang  kertasnya sudah kuning-kuning, gue sangat bahagia sampai nafas tercekat di tenggorokan, karena gue tidak butuh waktu selama gadis itu.

Kamis, 26 April 2012

Kenapa??

Makin lama makin mengiris.
Sekalinya datang jalur alihan, ia tetap menyapa lagi malam selanjutnya.
Dia mau apa?
Ini salah siapa?

Minggu, 08 April 2012

Rabu, 04 April 2012

A Home






If i could draw,
I would draw our own house
With a front porch facing our yard
The place where you’d read everyday’s newspaper – if they’d still have it printed on paper
Where our kids would love to play together 
And we would smile at their laughs
And i would make a room for you
A room with your old videogames, sports equipments, or else
To give you space to get away from me, at some times in a week
And then you’d know that with me you’d still be free
And I’d make a back porch overlooking the coast, and our room too
So the sun would wake us up and tuck us to sleep everyday
We would sit there all day watching the waves
Smelling the scent of the ocean
Maybe some pelicans would be there too
And we’d talk about things we never thought we would
And you would bring your guitar and sing to me
No matter how old we would be
I’d build a house that’s so “me” and so “you”
Put our stupid pictures on the walls
Pictures that mainstream people wouldn't want anybody to see
It would be in a place quite and far away from the crowd
It would take hours to go to work
But I guess it would be worth it.....
So everyday it would make you wanna go home earl
And think about me all the way home
And if one day we would go apart
The house would remind us of the things we once forgot
The every corner would remind me of you
And remind you of me
The house would be our home, where our hearts belong