Tuesday, November 22, 2011

Dear Diary

When I was little I used to have this super thick book that literally smelled so good, that I called ‘diary’. I wish I had it now. I’m in a desperate need of a diary.


Dear Diary,

Campur aduk banget perasaan gue tadi malem. Gue masih ‘berantem’ sama diri gue sendiri. “Kenapa sih gue gini, kenapa sih gue mesti gini dan nggak gitu aja? Gampang kan untuk jadi gitu?” dan di saat itu orang lain menuntut sesuatu yang, menurut gue, “Yaelah itu mah ga usah diomongin! Kapan-kapan aja!”

Tapi gue juga jadi mikir, banyak orang yang lebih kasihan dari gue dan gue ga berhak –sama sekali ga berhak- buat minta semangat dari mereka. Ya, gue emang gak minta. Tapi mereka selalu ngasih. Di saat mereka pun butuh. Dan gue ga cukup peka untuk sadar keadaan mereka semua. Semua. Gue cuma sadar beberapa, dan gue ga melakukan apa-apa. Kayaknya gue kebanyakan thinking daripada doing deh. Gimana dong?

Maaf ya gue masih menuntut padahal lu juga seharusnya sangat boleh menuntut kalo lu mau. Kenapa sih lu selalu kelihatan baik-baik aja? Makasih...... makasih.... makasih lah. I’d be ‘there’ if only I could.

Mungkin ini saat-saat di mana gue merasa sangat sendiri.


- Orang yang tidak sedang galau.

No comments:

Post a Comment