Monday, July 9, 2012

Masih Jaman?


Mungkin ini keluhan paling cetek yang bakal keluar dari mulut (atau jari-jari) seseorang yang ada di posisi gue.
Gue takut.
Takut kangen, takut sedih, takut sendiri.
Takut pergi.
Mestinya ini udah gue pikirin jauh-jauh hari, jauh sebelum tanggal 28 Maret 2012 waktu semuanya jadi jauh lebih jelas. 

Semuanya mendukung gue untuk ini, kan?

Untuk keluarga gue yang satu itu, kalau yang lain masih punya tiga hal lagi untuk diperjuangkan, gue hanya tinggal punya satu.
Dan mungkin –kemungkinan besar- kemaksimalan gue masih akan terganggu, gara-gara persiapan ini…
Internet, kamera; mungkin bisa menjawab.
Tapi gak akan ada yang sama lagi, kan? Iya, kan?

Emang gak cukup ya, meninggalkan secepat ini,
Bukan mendidik dulu, lengser dulu, mengawasi dulu dari jarak jauh…
Tapi langsung pergi, dan ketika kembali, telah hilang.
Tidak cukup? Masih harus dikurang-kurangi juga?

Andaikan kita punya rumah, kawan.
Gue bakal ngungsi ke sana sampai tanggal 28 nanti.
… Ga tiap hari sih …

Kalo gue maunya puas-puasin sama mereka, sebanyak-banyaknya, ga boleh?

Dan harus pergi dari dia.
Dia yang kayak ekstasi (belum tau efeknya, tapi kata orang sih adiktif).
Dia yang walaupun gue tetep di sini, gak akan bawa gue ke mana-mana.
Noprob, hun.
Dia yang walaupun bikin gue gila, ga bikin gue buta.
Dia yang ajaib.
Tapi, pergi dari dia…
Gak tau mana yg lebih buruk; going away or watching him fooling around with someone else.

Alaaaah, liat gue kan, masih mikirin begituan juga.

Lagipula, apa lagi sih yang mesti disiapin?
Kalau ‘kalian’ mau semuanya sempurna, ga akan aada habisnya.


Toh kalau alasannya itu, entah dari penyakit atau bukan… jika memang bukan takdirnya, ya pesawatnya tidak akan terbang.

No comments:

Post a Comment